Bercerita, Obat Mujarab bagi yang Sulit Menulis

Pernahkah anda mengalami kebuntuan di depan komputer? Atau merobek kertas berkali-kali di kala kita salah menulis?  ‘Penyakit’ yang kita alami saat memulai proses menulis adalah terlalu sibuk menulis sambil mengedit. Akhirnya, jika kita diminta menulis dengan tenggat waktu yang ditentukan, alhasil sampai waktu berakhir tulisan kita belum jadi atau bahkan tidak sama sekali.

Namun, bagaimana kalau kita ditanya oleh seorang teman tentang cerita atau pengalaman hari ini? Tanpa berpikir banyak, aliran kata-kata begitu lancar keluar dari mulut kita dan teman kita menyimak dengan baik. Ketika bercerita, tidak pernah ada kata-kata yang diedit atau dikurangi, tetapi kita menambahnya dengan sedikit drama dan gaya ekspresif, cerita jadi lebih seru dan hidup.

Nah, sebelum menulis, coba lakukan ‘pemanasan’ dengan bercerita. Teknik bercerita ini disebut storytelling yang dapat  merangsang stimulus ide dalam pikiran anda. Selain berguna bagi yang sedang mengalami kebuntuan, teknik ini juga tahap awal yang baik bagi penulis pemula.

Bagaimana caranya melakukan teknik ini?

  1. Mengingat kembali cerita yang menarik. Tarik nafas, ambil waktu sekitar 20 detik untuk mengingat-ingat cerita-cerita menarik bagi anda. Cerita menarik tidak mesti yang menyenangkan tetapi boleh jadi lucu, konyol, sedih, atau menjengkelkan. Sumbernya tidak hanya pengalaman pribadi saja, bisa pengalaman teman, orang yang tidak anda kenal, buku yang dibaca, atau apapun.
  2. Ajak teman sebagai pendengar. Supaya lebih afdol, ajaklah teman atau rekan kerja  untuk mendengarkan cerita menarik dari anda. Berceritalah mengalir seperti biasa dan perhatikan respon teman anda. Fungsi teman tidak hanya sekedar mendengarkan, tapi anda dapat mengecek kemampuan anda menyampaikan cerita. Jika tidak ada orang lain di sekitar anda, gunakan perekam atau recorder, setelah selesai, putar ulang rekaman tersebut.
  3. Lakukan wawancara atau diskusi kecil. Kalau anda mengharapkan arah yang lebih jelas untuk memetakan ide, ajak lawan bicara bertukar pikiran mengenai sesuatu yang sebelumnya ia ceritakan atau anda tanyakan. Feedback yang didapat  akan berguna sebagai ide tulisan. Ini salah satu cara yang mudah dengan meminjam logika berpikir lawan bicara kita.
  4. Printing: Kelanjutan dari proses ini dinamakan printing, menulis mengalir seperti mencetak cerita kita sendiri. Lakukan terus tanpa harus merasa takut salah. Jangan ragu dengan susunan kalimat atau kata yang masih kacau. Tuliskan saja apa yang ada dalam pikiran, atau yang terucap.
  5. Editing: Porsi editing dilakukan setelah proses di atas selesai. Dalam proses editing inilah proses menyunting dan mengoreksi tulisan dilakukan seksama. Bagaimana pun akan sangat sulit mengedit tulisan sendiri. Jadi mintalah bantuan editor untuk mengedit tulisan anda, lalu  diskusikan apa yang dibutuhkan demi  perubahan ke depannya. Sehebat apapun penulis masih membutuhkan bantuan editor dan koreksi berulang agar tersaji tulisan yang layak.

Melalui proses storytelling di atas kita dapat merasakan perbedaannya ‘mencetak’ ide tanpa edit dengan mengoreksi tulisan yang belum matang. Keberhasilan kita dalam bercerita akan memberikan peluang lebih luas untuk menguraikan benang-benang pemikiran dan ide secara lugas. Mulai saat ini biasakan menulis sebagaimana bercerita. Beranikan diri kita menulis, bebaskan cerita mengalir apa adanya. Jadi tunggu apalagi?

 

 

sumber foto: www.writersstore.com